Kab. Tasik kabarjurnalisnews.com — Nasib pilu dialami Rahmat Maulana Yusup, warga Kampung Tawang Bantèng, Dusun RT 001/001, Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Hidupnya yang sederhana kini berubah penuh tekanan, setelah berbagai musibah menimpa keluarganya dalam waktu berdekatan.
Rahmat kini hanya tinggal bersama putrinya yang mengalami kelumpuhan. Sang anak membutuhkan perhatian penuh setiap hari, mulai dari perawatan dasar hingga kebutuhan kesehatan yang tak murah. “Saya harus tetap kuat karena hanya saya satu-satunya yang bisa mengurusnya,” ujar Rahmat dengan suara pelan , Sabtu 06/12/2025.
Kesulitan Rahmat semakin bertambah ketika istrinya meninggal dunia beberapa waktu lalu akibat penyakit kanker payudara.
Kepergian perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung moral dalam keluarganya membuat Rahmat terpukul.
Namun cobaan belum berhenti di situ. Tak lama selepas itu, ibunya mengalami stroke dan membutuhkan penanganan intensif. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Rahmat harus membagi tenaga dan waktu untuk mengurus dua anggota keluarga yang sama-sama membutuhkan perhatian khusus.
Di tengah kondisi berat itu, Rahmat justru menghadapi persoalan baru yang tidak pernah ia bayangkan: bantuan sosial dari pemerintah yang selama ini menjadi penopang hidupnya tiba-tiba terblokir. Pemblokiran tersebut diduga akibat terindikasi terkait aktivitas judi online (judol). Padahal, menurut Rahmat, jangankan untuk berjudi, untuk memenuhi kebutuhan harian saja ia kesulitan.
“Saya tidak pernah main judi. Untuk makan sehari-hari saja saya bingung. Nama dan nomor saya kemungkinan dipakai orang yang tidak bertanggung jawab, sampai-sampai bansos saya terblokir,” ujar Rahmat dengan nada sedih.
Rahmat menduga identitasnya disalahgunakan oleh pihak yang tidak dikenal, sehingga sistem mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan. Akibatnya, ia kehilangan satu-satunya bantuan reguler yang sangat diandalkan untuk bertahan hidup di tengah kondisi serba sulit. Ia mengaku sudah mencoba mengurus klarifikasi, namun prosesnya tidak mudah dan memakan waktu.
Kondisi Rahmat mencerminkan masih adanya persoalan dalam penyaluran bantuan sosial, terutama terkait validasi data dan penyalahgunaan identitas. Di satu sisi, pemerintah menerapkan sistem pengawasan ketat untuk mencegah penyimpangan. Namun di sisi lain, masyarakat yang justru benar-benar membutuhkan kerap menjadi korban ketidakakuratan data atau penyalahgunaan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Warga sekitar berharap pemerintah desa maupun dinas terkait dapat segera turun tangan melakukan pengecekan ulang data Rahmat, serta memastikan hak-haknya dipulihkan. Pasalnya, tanpa bantuan tersebut, kebutuhan hidup sehari-hari keluarga Rahmat sangat sulit terpenuhi, terlebih dengan kondisi dua anggota keluarganya yang sakit.
Di tengah berbagai keterbatasan, Rahmat tetap berusaha tegar. Ia berharap pemerintah mau membantu memulihkan kembali akses bantuan sosialnya, sehingga ia bisa melanjutkan hidup tanpa ketakutan akan kehabisan biaya untuk kebutuhan dasar keluarganya.
“Saya hanya ingin hidup normal dan bisa merawat keluarga saya dengan layak,” ucapnya lirih. (SR)
