Kota. Tasik, kabarjurnalisnews.com - Pelaksanaan pekerjaan pengecoran pada Mega proyek peningkatan jalan nasional di depan SPBU Karang Resik yang bernilai ratusan miliar rupiah, diduga tidak memenuhi standar teknis konstruksi.
Dugaan tersebut muncul setelah beredar dokumentasi yang merekam aktivitas pengecoran dilakukan pada area yang masih tergenang air pada Jumat (8/5/2026).
Berdasarkan dokumentasi visual, saluran atau sloof yang telah digali masih terisi air keruh dengan kedalaman sekitar belasan sentimeter. Di lokasi yang sama tampak armada "readymix" yang diduga sedang mendistribusikan adukan beton ke titik pengecoran.
Secara teknis, pengecoran pada kondisi tergenang air bertentangan dengan kaidah pelaksanaan pekerjaan beton. Kehadiran air berlebih dalam campuran dapat menurunkan rasio air-semen, sehingga mengurangi kuat tekan beton dan berpotensi menyebabkan segregasi material. Akibatnya, struktur yang dihasilkan menjadi rapuh, tidak homogen, dan memiliki umur layanan rendah.
“Secara prosedur, lokasi kerja wajib dikeringkan terlebih dahulu melalui pemompaan hingga bersih. Pengecoran dalam kondisi basah akan menurunkan kualitas beton secara signifikan. Fakta di lapangan menunjukkan air genangan hanya disingkirkan secara manual menggunakan ember, yang secara teknis tidak memadai.
Kondisi ini berpotensi menjadi temuan oleh BPK maupun aparat pengawas fungsional,” ujar seorang praktisi konstruksi.
Fenomena tersebut menimbulkan indikasi adanya pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis, dengan implikasi terhadap efisiensi dan akuntabilitas anggaran negara. Apabila struktur beton mengalami kegagalan dini, maka akan terjadi pemborosan fiskal untuk kegiatan perbaikan atau rekonstruksi ulang.
Masyarakat setempat mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta instansi pengawas terkait untuk melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh.
Pemeriksaan terhadap papan informasi proyek juga diperlukan guna memastikan legalitas kontraktor pelaksana serta besaran nilai kontrak yang disebut mencapai miliar rupiah.
Jika perlu Gubernur Jawa barat kang Dedi Mulyadi (KDM) segera untuk meninjau langsung pengerjaan Mega proyek tersebut,"ujarnya.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pihak PT Trie Moekti melalui telepon WhatsApp. Perwakilan perusahaan, H. Jajang, menyatakan sedang berada di luar kota dan bersedia memberikan keterangan lebih lanjut setelah berada di kantor.
Namun hingga beberapa hari setelahnya, awak media belum mendapat jawaban meski telah beberapa kali menghubungi melalui WhatsApp pribadi H. Jajang, malah seolah mengulur waktu. (Sandi/Adang Kucir)




Posting Komentar