Penjaga Adat Kabuyutan Tetapkan Fiona Callaghan Sebagai Batari Hyang Baru


Tasikmalaya, kabarjurnalisnews.com - Di bawah naungan langit Gunung Ringgeung yang sakral, sebuah narasi besar tentang estafet kepemimpinan perempuan Sunda baru saja diukir. 


Bukan sekadar seremonial belaka, penyematan nama Batari Hyang kepada Fiona Callaghan pada 27 Maret 2026 lalu, merupakan pernyataan tegas bahwa warisan leluhur tidak sedang dimuseumkan, melainkan sedang dihidupkan kembali. 


Para penjaga adat Kabuyutan berkumpul dalam kekhidmatan yang magis. Mereka tidak hanya mengirim doa kepada para leluhur, tetapi juga menitipkan sebuah amanah besar, "amanat Galunggung" kepada sosok Fiona.


Pemilihan nama ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil pembacaan atas karakter keteguhan dan keberanian yang dianggap selaras dengan spirit sang Ratu Galunggung di masa lampau. 


Dalam konstelasi sejarah Kerajaan Galunggung, Batari Hyang, dikenal juga sebagai Batari Hyang Janapati, adalah sosok perempuan luar biasa yang memerintah pada abad ke-11. Beliau bukan sekadar ratu pelengkap, melainkan pemimpin yang menetapkan landasan moral dan spiritual bagi masyarakat Sunda melalui naskah kuno "Amanat Galunggung".


Simbol Kekuatan: Ia adalah representasi kemandirian perempuan dalam mengelola wilayah dan menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam, Kabuyutan.


Nilai Utama: Ajaran utamanya menekankan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga tanah airnya, _lemah cai_, agar tidak jatuh ke tangan asing atau hancur karena keserakahan internal.


Lantas, siapa sosok yang kini menyandang nama sakral tersebut? Fiona Callaghan dikenal publik Indonesia sebagai sosok yang multidimensi. Mengawali karier sebagai model dan aktris, Fiona berevolusi menjadi seorang aktivis budaya dan petualang yang memiliki kedekatan spiritual dengan alam Nusantara. 


Langkah Fiona yang konsisten masuk ke jantung-jantung desa adat dan menyuarakan pelestarian lingkungan, menjadikannya figur yang dianggap layak oleh para tetua adat Kabuyutan untuk mengemban gelar tersebut.


Baginya, gelar ini bukan untuk kebanggaan semata, melainkan "beban" suci untuk memastikan api perjuangan perempuan Sunda, yang cerdas, berani, namun tetap santun, tidak padam ditelan zaman.


Gunung Ringgeung dipilih sebagai saksi bisu karena nilai historisnya sebagai bagian dari bentang alam Galunggung yang legendaris. Ritual ini mengirimkan pesan tajam kepada generasi muda: bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan akar. 


"Warisan bukan sekadar untuk dikenang dalam buku sejarah yang berdebu, tapi untuk diteruskan melalui tindakan nyata," ungkap salah satu penjaga adat di lokasi. 


Penyematan ini menjadi pengingat bahwa di era digital ini, kita masih memiliki sosok "ratu" dalam bentuk semangat konservasi dan kedaulatan budaya. Fiona Callaghan, dengan nama Batari Hyang-nya, kini berdiri sebagai jembatan antara kemuliaan masa lalu dan tantangan masa depan.


Ketika kabut perlahan turun menyelimuti Gunung Ringgeung sore itu, ada sebuah rasa haru yang tertinggal. Batari Hyang kini tak lagi hanya menjadi nama di lembar naskah lama; ia telah bernapas kembali. 


Di pundak Fiona, kita melihat bahwa sejauh apa pun seorang perempuan melangkah, ia akan selalu menemukan jalan pulang untuk menjaga tanah airnya. Sebuah janji suci telah diucapkan, dan sejarah akan terus mencatat betapa perempuan tetap menjadi tiang penyangga peradaban yang paling tangguh. (Fikri)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama